Permasalahan Adapter Dalam Jasa Recovery Data

Data Anda rusak? Ingin bisa dibaca lagi? Klik di sini untuk mendapat solusi!

Jumpa kembali bersama pakarnya data. Moga-moga makalah kali ini secara overview dapat menambah ilmu mengenai seluk-beluk jasa data recovery, cara mengembalikan file yang terhapus/hilang, mengatasi hard disk/flash disk tidak terbaca, dst.

AhliData.com sebagai penyedia jasa recovery data (mengembalikan file yang hilang/terhapus, memperbaiki hard disk/flash disk tidak terbaca, dst) tentunuya sering menghadapi berbagai jenis storage media yang berbeda. Semuanya dengan koneksi/interface yang beragam, dan sama-sama perlu untuk diselamatkan datanya. Untuk dapat membaca berbagai jenis media penyimpanan data tersebut tentunya dibutuhkan Sebuah alat yang namanya adapter agar data dapat kami baca dengan baik. Pada posting kali ini itulah yang akan kami bahas, yaitu peranan adapter dalam recovery data.

Source: RapidSpar

Jenis Adapter Dalam Recovery Data

Biasanya adapter dipakai untuk melakukan konversi antara tipe interface fisik yang berbeda pada berbagai storage device yang beroperasi pada protokol yang sama. Tipe adapter seperti ini disebut dengan passive adapter. Ada banyak contoh interface yang kesemuanya yang memakai protokol ATA, semisal interface IDE, SATA, mSATA, micro SATA, 2.5″ IDE, dan lain sebagainya.

Karena kesemuanya memakai protokol ATA untuk berkomunikasi dengan operating system, maka mengubah/mengadaptasi si antar mereka bukanlah persoalan yang susah. Selama house dan storage devices sama-sama protokol ATA sebenarnya yang dilakukan adaptor hanyalah merubah interface saja, bukan cara kerjanya. Adapter pasif seperti ini tidak memiliki komponen aktif di dalamnya, adapter seperti ini juga tidak terlibat dalam komunikasi protokol ATA, sehingga command yang dikirimkan dari dan ke operating system diterima dan dikirim oleh storage device persis sebagaimana mereka dikirim atau diterima. Ini berlaku pada perintah standard ATA ataupun perintah/command spesifik dari produsen.

Adaptor aktif dibutuhkan saat controller dan storage media menggunakan protokol komunikasi yang berbeda. Sayangnya adapter seperti ini memiliki limitasi saat digunakan untuk keperluan recovery data. Ada memang beberapa adapter yang tersedia di pasaran yang yang banyak dipakai oleh konsumen akhir, semisal adapter dari SATA ke USB, akan tetapi adaptor seperti ini hanya memiliki dan mendukung sebagian kecil command yang pada akhirnya mereka terjemahkan ke protokol lainnya. Misalnya dari command berbasis protokol USB ke protokol ATA.

Cara kerja adaptor aktif seperti ini adalah mereka menerima perintah melalui protokol yang dipakai oleh host (misal: USB) lalu mereka menerjemahkan perintah yang dikirimkan tersebut kedalam bentuk perintah yang dipahami oleh storage device (misal: ATA), setelah itu mengirimkan perintah tersebut kepada device, lalu menerjemahkan dan mengirimkan respons dari device ke Operating System yang menjadi Host. Seperti bisa Anda lihat dalam kasus ini adaptor lah yang menentukan komen apa akan diterjemahkan sebagai apa, artinya kapabilitas komunikasi dari host operating system ke storage device atau sebaliknya sangat terbatas.

Keterbatasan Kemampuan Adaptor Aktif

Desain dari active adapter biasanya menggunakan kemampuan translasi perintah yang sangat terbatas untuk mengubah perintah dari satu protokol komunikasi data menjadi protokol yang lainnya. Hal ini dikarenakan umumnya adapter aktif diperuntukan bagi konsumen yang menggunakan storage device dalam kondisi sehat, bukan para penyedia jasa recovery data. Biasanya adapter aktif seperti ini hanya mendukung perintah-perintah inisialisasi data/inisialisasi storage device, pembacaan dan penulisan data yang standar, melakukan riset standard, dan semua perintah yang bisa dilakukan hanyalah yang sudah didesain oleh desainernya. Jadi tidak semua perintah protokol komunikasi data dapat dijalankan.

Tidak peduli apa perintah reset atau perintah inisialisasi yang dikirimkan oleh host operating system, adaptor hanya akan memahami dan menerjemahkan request yang telah dikenalinya, yaitu yang ditanamkan oleh desainer dalam chip adaptor tersebut, perintah yang dia kenal tersebutlah yang akhirnya akan dikirim kepada storage device.

Hal ini Tentunya berbeda dengan keperluan penyedia jasa recovery data, dimana mereka membutuhkan beragam cara melakukan restart storage media, berbagai prosedur inisialisasi, dan berbagai perintah untuk menjaga agar storage device tetap menyala dan dapat diakses saat mencoba menarik data dari dalamnya. Karena itulah dalam banyak kasus penggunaan adapter yang aktif tidak akan menghasilkan outcome yang baik, karena host tidak akan dapat melakukan kontrol penuh kepada storage media.

Masalah Dengan Vendor Specific Command

Salah satu kekurangan lainnya dari adapter aktif adalah ketidakmampuannya untuk menerjemahkan perintah spesifik dari vendor tertentu, atau command standar tapi jarang dipakai. Padahal dalam pengerjaan recovery data kita membutuhkan hal tersebut, yang sayangnya tidak didukung oleh adapter.

Pada saat seperti itu hal yang terjadi akan sangat bergantung pada desain dari adapter. Kebanyakan adapter jika mendapat perintah yang tidak mereka kenal atau tidak mereka sanggupi akan men-discard/meng-ignore begitu saja perintah tersebut, lalu membalasnya dengan reply OK seakan-akan diproses oleh storage device, padahal command tersebut sama sekali belum mencapai storage device.

Karena adapter harus sukses melakukan resolve command supaya dapat mengkonversinya dengan baik, maka ketidakstabilan dapat terjadi dan menambah problema kehilangan data/file terhapus. Storage device yang tidak stabil juga bisa mengirimkan komen yang tidak standard, sehingga akan membingungkan adapter dan membuatnya tidak dapat menerjemahkan command tersebut walaupun sudah terekam pada chip adapter. Karena alasan inilah tidak ada adapter aktif/adapter cross protocol yang benar-benar dapat bekerja baik untuk kebutuhan recovery data. Karena alasan yang sama juga anda melihat alat recovery data selalu dibuat spesifik untuk setiap protokolnya dan tidak memakai adaptor aktif.

Masalah Pada PCIe Storage Device

Ada juga yang baru, yaitu storage media media berbasis PCI Express (PCIe). Kategori penyimpanan data ini masuk ke dalam kategori baru. Pada berbagai storage devices yang lain arsitektur standarnya adalah command datang dari host, lalu ke storage controller, lalu ke media penyimpanan data. Kebanyakan alat hardware recovery data pada dasarnya adalah storage controller yang mengambil kontrol penuh terhadap storage device.

Namun pada penyimpanan data berbasis PCI Express (PCIe), storage devices tidak memiliki controller external sama sekali. Jadi koneksi langsung dari host operating system ke storage device yang memiliki controller built-in. Dengan demikian tidak ada cara bagi storage controller pihak ketiga untuk mengontrol media penyimpanan data yang terhubung dengan interface PCIe. Adapter apa pun yang mencoba untuk mengkonversi storage device seperti itu ke dalam bentuk protokol standar seperti USB atau ATA harus berperan mengemulasi host operating system, yang artinya hardware recovery data tersebut harus memiliki operating system sendiri dan berperan sebagai host.

Ini adalah desain yang sangat kompleks yang lebih sulit dibandingkan mengkonversi antara dua protokol berbeda, jadi akan memiliki limitasi yang sama atau lebih parah daripada adapter aktif. Selain itu adapter seperti ini bisa jadi tidak bekerja dengan baik dengan seluruh jenis storage device berbasis PCI Express, karena sebagian storage media tersebut menggunakan metode tertutup (dibuat sendiri oleh produsen) untuk berkomunikasi antara host operating system dan storage device tersebut.

Nampaknya ini dulu untuk info kali ini. Moga-moga makalah ini sedikit-banyak menambah ilmu tentang jasa data recovery dan berbagai hal tentang cara mengembalikan file/folder yang terhapus/hilang, reparasi hard disk/flash disk tidak terbaca, dst. Semoga jurnal ini dapat mencerahkan seputar segala sesuatu tersebut.

Data Anda rusak? Ingin bisa dibaca lagi? Klik di sini untuk mendapat solusi!