Bagian 2: Jasa Recovery Data Berbasis Software vs Hardware

Data Anda rusak? Ingin bisa dibaca lagi? Klik di sini untuk mendapat solusi!

Selamat datang lagi bersama kami spesialis data. Moga tutorial kali ini secara luas banyak menginspirasi mengenai galaksi jasa data recovery, cara mengembalikan file yang terhapus/hilang, pemecahan hard disk/flash disk tidak terbaca, dst.

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Bagian 1: Recovery Data Berbasis Software vs Hardware. Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang kelebihan penggunaan alat recovery data berbasis hardware dibandingkan dengan alat recovery data berbasis software semata.

Source: Medium

Pada artikel sebelumnya AhliData.com sebagai penyedia jasa recovery data (mengembalikan file yang hilang/terhapus, memperbaiki hard disk/flash disk tidak terbaca, dst) telah menjelaskan bahaya recovery data berbasis software semata, dan pentingnya memakai hardware khusus untuk mendapatkan hasil yang optimal. Kita bahas lebih lanjut mengenai hal tersebut pada kesempatan kali ini.

Perbedaan Alur Kerja Software dan Hardware Tools

Software tools harus bekerja melalui hardware yang yang secara default tidak didesain untuk bekerja menjalankan drive dengan masalah instabilitas. Lebih buruknya lagi biasanya hardware komputer didesain secara khusus untuk tidak bekerja dengan storage device yang rusak, karena tujuan utamanya adalah untuk memastikan agar sistem tetap berjalan normal secara utuh. Terus menerus bekerja dengan storage device yang selalu memberikan hasil error bukanlah hal yang diharapkan, sehingga ketika telah mencapai batas ketidakstabilan tertentu system firmware atau software (OS/BIOS) akan memutus koneksi dengan device untuk bekerja sama dengan device tersebut. Jika sistem telah menolak untuk bekerjasama dengan hal tersebut, koneksi terputus dan software recovery data akan sia-sia, karena hardware tersebut tidak akan pernah terbaca sama sekali melalui sistem operasi.

Yang lebih masalah adalah jika yang memutuskan koneksi adalah dari pihak hardware/drive/disk. Karena jika yang memutuskan koneksi adalah hardware yang tidak stabil tersebut, masalahnya bukan hanya pada kegagalan melakukan recovery. Jika yang memutuskan koneksi adalah dari pihak hardware maka software belum tentu dapat mendeteksi bahwa koneksi telah terputus, sehingga drive dalam kondisi ini akan tetap menyala dalam kondisi tidak bekerja, dalam waktu yang sama software terus mencoba untuk membaca data dan mengakses data tetapi tidak berhasil.

Hampir seluruh drive modern mempunyai mekanisme automatic yang bekerja saat drive berada dalam kondisi idle setelah beberapa waktu tertentu. Mekanisme ini membuat drive melakukan scanning pada permukaan dirinya untuk mencari dan melakukan realokasi sektor yang Lemah atau rusak. Hal ini membuat head baca/tulis pada drive melakukan scanning setiap sektor yang dapat diakses dan setiap sektor yang rusak lalu akan di realokasikan (ditambahkan ke Grown Defect List/G-List). Ini Tentunya adalah hal yang sangat tidak kita inginkan terjadi atau dilakukan oleh drive yang tidak stabil. Dengan terus-menerus bekerja maka drive akan semakin rusak, dalam kondisi tidak ada data yang berhasil dibaca. Lebih parahnya lagi Grown Defect List/G-List bisa menjadi penuh dan membuat kerusakan firmware, berarti menambah satu lagi problem dari problem aslinya.

Demikian yang terjadi jika Anda menggunakan software semata. Berbeda halnya jika Anda menggunakan hardware khusus untuk jasa recovery data, hardware tidak akan berhenti bekerja dengan drive dan juga dapat mendeteksi dan bisa menghentikan drive kapanpun dia menginisialisasi self scanning yang tidak diinginkan.

Proses Mounting Drive/Disk Pasien

Teramat sering teknisi IT di perusahaan menghubungkan drive pasien langsung ke komputer yang menjalankan operating system seperti Windows atau Macintosh untuk menjalankan software recovery data pada drive tersebut. Jika file system pada drive disupport oleh Operating System yang terkoneksi maka OS akan secara langsung mencoba mounting/memasang drive tersebut supaya user dapat mengakses file yang terdapat di dalamnya. Proses tersebut walau terlihat sederhana bisa membutuhkan proses yang berat pada drive yang tidak stabil. Detail pastinya tentang step-by-step cara proses mounting dilakukan akan berbeda tergantung Operating System yang dijalankan, akan tetapi kita bisa secara garis besar menggambarkan proses pada Windows 7 dan OS X Yosemite sebagaimana berikut:

Windows 7 memulai proses mounting dengan membaca Master Boot Record (MBR) pada drive 9 kali. Jika sukses Windows akan membaca Master File Table (MFT) pada file system dengan sistem blok yang terdiri atas 128 sektor sambil secara simultan mengirim beberapa kali perintah penulisan untuk meng-update logs. Jika sebuah drive gagal dibaca bloknya pada MFT maka Windows akan secara otomatis mencoba membaca blog yang sama tersebut lagi-lagi dan lagi, hingga 9 kali

Jika seluruh usaha tersebut tidak berhasil maka Windows akan memecah blok yang terdiri atas 128 sektor menjadi blog lebih kecil yang sama dengan ukuran cluster yang dipakai oleh sistem, biasanya 8 sektor atau 4 KB. Block yang sama yang terdiri atas 128 sektor tersebut, yang sudah gagal dibaca 9 kali berturut-turut, akan dicoba dibaca kembali 8 sektor demi 8 sektor.

ika salah satu blok berukuran 8 sektor tersebut gagal dibaca, windows juga akan mencoba membacanya 9 kali. Jika seluruh usaha tersebut masih gagal maka Windows akan menyerah, melakukan reset pada drive, dan secara otomatis memulai proses mounting dari awal kembali.

Jika memungkinkan Windows akan melakukan restart proses mounting sebanyak yang dia inginkan sampai pada akhirnya drive menjadi kres dan stop merespon sama sekali. Karena kerusakan pada kasus ini ini terjadi karena repetisi pembacaan dengan perintah standard ATA maka penggunaan write blocker pada kasus ini tidak berguna sama sekali.

Jika Windows berhasil melakukan mounting pada drive, dia akan terus menulis kepada drive tersebut untuk mengupdate system logs. Setiap kali file dibuka Windows pun akan mengupdate atributnya untuk merekam jejak Kapan terakhir kali file tersebut diakses. Tentunya seluruh proses penulisan ini mengupdate data lama, membuat data loss menjadi permanen dan menambah kerusakan hardware yang tidak diperlukan.

Ada sebuah fitur yang kurang diketahui atau jarang dikenal dari Windows yaitu fitur untuk secara otomatis membersihkan file system entries yang tidak dapat dipahami pada device yang di-mount ke Windows. Dengan kata lain seluruh entry MFT yang terkorupsi yang ditemukan oleh Windows pada drive pasien akan dihapus tanpa pemberitahuan kepada user, hal ini menyebabkan data loss permanen dan kerusakan tambahan pada drive. Sebenarnya entry MFT yang sedikit rusak tersebut masih bisa sangat bermanfaat ketika mengalami parsing dengan metode yang sesuai untuk keperluan recovery data.

Macintosh OS X Yosemite memiliki sedikit cara berbeda dalam mounting drive. Dia tidak akan mencoba sebanyak yang dilakukan Windows 7 untuk berhasil melakukan mounting. OS X banyak melakukan proses baca dan tulis yang mirip, akan tetapi jika dia menemukan blog yang tidak dapat dibaca pada bagian critical dari file system (misalnya dalam root directory structure) maka dia hanya akan mencobanya 5 kali saja, dan jika tidak berhasil maka dia akan berhenti mencoba mounting drive sama sekali.

Drive seperti itu tentunya akan invisible terhadap operating system, akan tetapi tetap nyala dan idle, yang tetap bisa menjadi masalah sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Jika struktur kritis berhasil dibaca seluruhnya dan dan struktur yang tidak terlalu kritis tidak berhasil dibaca (seperti catalog entries untuk user files) maka OS X akan mencoba membaca block yang tidak terlalu kritis tersebut 10 kali sebelum akhirnya menyerah dan melakukan mounting tanpa data dalam block tersebut.

Pada kasus ini OS X dapat melihat dan bekerja dengan drive tersebut, akan tetapi sebagian file akan hilang/ tidak dapat terbaca/tidak dapat diakses. Josep tidak akan mendapat pemberitahuan tentang hal ini.

Kelebihan Hardware Recovery Data

Jika kita lihat bagaimana proses mounting drive pada Windows dan juga Macintosh maka akan kita ketahui bahwa banyak sekali kemungkinan kehilangan data pada proses mounting tersebut, karena berulang kali proses pembacaan data dilakukan dan juga banyaknya update pada file yang dilakukan oleh sistem operasi. Inilah yang harus dihindari Dan inilah yang tidak akan pernah dilakukan kan oleh hardware yang diproduksi khusus untuk melakukan pekerjaan jasa recovery data. Maka sangat penting bagi anda untuk menggunakan hardware khusus recovery data dan tidak mengandalkan software semata karena banyak sekali kekurangan yang dimiliki oleh software recovery data semata.

Sepertinya cukup dahulu untuk edisi kali ini. Harapan kami postingan ini semakin menambah wawasan terkait jasa recovery data dan beragam hal terkait cara mengembalikan file/folder yang terhapus/hilang, mengatasi hard disk/flash disk tidak terbaca, dst. Moga tutorial ini sedikit-banyak menginspirasi tentang semua tersebut.

Data Anda rusak? Ingin bisa dibaca lagi? Klik di sini untuk mendapat solusi!