Software Saja? Berbahaya Untuk Recovery Data

Data Anda rusak? Ingin bisa dibaca lagi? Klik di sini untuk mendapat solusi!

Selamat datang kembali dengan pakarnya data. Moga informasi kali ini secara overview semakin membuka wawasan tentang seluk-beluk jasa recovery data, cara mengembalikan file yang terhapus/hilang, service hard disk/flash disk tidak terbaca, dst.

Banyak dari kita saat mengalami kerusakan data mencoba untuk melakukan recovery data melalui software-software yang diklaim bisa mengembalikan data yang hilang. Pertimbangannya mungkin adalah agar bisa langsung diproses saat itu juga. Akan tetapi, apakah hal ini aman dan bisa mengembalikan data Anda? Mari kita coba bahas lebih lanjut.

Untuk mengembalikan data yang hilang, alat recovery berbasis software harus mengerjakan pekerjaan berbasis software. Hal ini tentunya tidak ideal. Lebih parahnya lagi adalah standar komputer biasanya tidak didesain untuk bekerja dengan media penyimpanan data yang rusak disebabkan tujuan utama pembuatannya adalah menjaga agar sistem berjalan secara baik. Storage devices yang selalu mengeluarkan error maka tujuan pembuatannya akan menjadi sulit diraih. Maka setelah titik tertentu, maka BIOS/UEFI atau operating system akan men-drop storage media yang rusak dan tidak mau bekerja lagi.

Jika sudah seperti ini maka storage media tidak akan dapat diakses sama sekali. AhliData.com sebagai penyedia jasa recovery data (mengembalikan file yang hilang/terhapus, memperbaiki hard disk/flash disk tidak terbaca, dst) sudah beberapa kali menghadapi kasus seperti ini.

Recovery data menggunakan software saja sangat berbahaya, bukan saja gagal untuk melakukan recovery, bahkan bisa merusak hard disk. Software tidak selalu tahu tentang keadaan hardware, karena itu bisa jadi ada kasus di mana harddisk sudah rusak parah akan tetapi masih hidup (ada listriknya) dan masih dipakai terus berputar oleh software recovery data. Hal ini membuat harddisk justru semakin parah keadaannya, juga semakin rusak datanya dikarenakan bisa jadi ada bagian dari harddisk yang terhapus akibat perputaran yang dipaksa dilakukan oleh software recovery data. Terlebih lagi, selama masih dinyalakan hardisk atau media yang lain akan terus melakukan scanning bad sector, ini tentu menambah berat kerja alat tersebut dan semakin membuat pendek usianya.

Beda sekali dengan hardware recovery data. Alat recovery data berbasis hardware bisa melakukan hal-hal lebih baik dari data berbasis software. Hardware data recovery bisa mengetahui kapan sebuah hardware penyimpanan data mulai rusak, dan bisa menyebab storage drive saat dia akan melakukan scanning bad sector, usia tidak bertambah pedek.

Proses Mounting Drive Pada Operating System

Secara umum para teknisi IT di berbagai perusahaan yang tidak memiliki skill recovery data memadai akan langsung mencoba menghubungkan drive yang rusak ke komputer yang menjalankan sebuah sistem operasi seperti Windows atau Macintosh. Jika sistem file yang dipakai oleh garis tersebut disupport oleh operating system, maka akan segera lakukan mounting drive tersebut agar user bisa segera menggunakan file yang ada didalamnya. Proses mounting ini saja cukup berbahaya bagi hardisk yang tidak stabil. Data yang dilakukan oleh operating system saat melakukan mounting ini akan berbeda-beda, tapi semuanya tetap berbahaya bagi storage media yang rusak.

Pada Windows misalnya apa, Master Boot Records (MBR) akan dibaca 9 kali saat proses mounting. Jika sukses selanjutnya Master File Table (MFT) akan dibaca untuk membaca struktur file dan folder. Cara pembacaannya adalah per blok, yang satu bloknya terdiri atas 128 sektor. Jika 1 block MFT gagal dibaca maka Windows akan mencoba membacanya lagi sampai 9 kali. Jika masih gagal juga dibaca maka pembacaan blok akan dipecah menjadi per cluster, yang biasanya terdiri atas 8 sektor atau 4 KB. Dan masing-masing cluster ini akan dibaca maksimal sebanyak 9 kali juga. Jika masih gagal maka Windows akan menyerah, selalu melakukan reset drive, selalu melakukan proses mounting dari awal lagi. Proses ini akan diulang terus sampai hard disk media lainnya hancur dan stop merespon sama sekali. Kerusakan karena proses ini disebabkan oleh banyaknya pembacaan ATA command yang terus-menerus, sehingga dalam kasus ini penggunaan write blocker tidak bermanfaat sama sekali.

Itu jika gagal dipasang atau mounting error. Sebaliknya jika sukses maka Windows akan terus menulis media penyimpanan data karena harus terus mengupdate sistem logs. Setiap kali file dibuka maka Windows akan mengupdate atribut file tersebut untuk menjejak kapan terakhir kali file tersebut diakses. Tentu saja banyaknya penulisan ini akan menghapus data lama, mengakibatkan kehilangan data permanen dan kerusakan storage media yang tidak diperlukan.

Itulah bahayanya penggunaan software untuk melakukan data recovery. Karenanya sangat disarankan untuk menggunakan hardware recovery data yang khusus yang tidak memberikan akses penulisan kepada operating system dan juga membatasi jumlah percobaan pembacaan dari storage media yang bermasalah agar tidak terjadi kerusakan data lebih lanjut.

Kiranya kami cukupkan dahulu untuk informasi kali ini. Harapan kami jurnal ini sukses memahamkan tentang jasa recovery data dan segala sesuatu tentang cara mengembalikan file/folder yang terhapus/hilang, pemecahan hard disk/flash disk tidak terbaca, dst. Moga-moga postingan ini mampu memahamkan terkait beragam permasalahan tersebut.

Data Anda rusak? Ingin bisa dibaca lagi? Klik di sini untuk mendapat solusi!